Minggu, 11 September 2011

sejarah kabupaten brebes

   Beberapa cerita rakyat tentang muncul/lahirnya beberapa nama desa-desa tertentu didalam wilayah Kabupaten Brebes memang ada. Misalnya nama desa Padasugih, Wangandalem,
Gandasuli, Pasarbatang, Kersana, Ketanggungan dan sebagainya. Namun itu semua hanya terlontar dari mulut ke mulut turun temurun. Tidak ada data pendukungnya untuk dijadikan bahan dalam penulisan sejarah lokal.Kalau saat ini sudah ada beberapa orang yang menyempatkan diri merekam cerita-cerita rakyat tersebut didalam bentuk tulisan, alhasil hanyalah merupakan rekaman belaka, yang tetapbelum menyandang bobot sebagai data penulisan sejarah. Sebuah kisah menarik mengenai lahirnya kota Brebes justru kita jumpai dalam Serat Kanda edisi Brandes. Menurut kisah ini, setelah kerajaan Majapahit berdiri dan Raden Susuruh dinobatkan menjadi raja dari kerajaan yang baru itu dengan nama Brawijaya yang terjadi tahun 1221 Saka (tahun 1299 Masehi) dengan candra sangkala Sela-Mungal-Katon-Tunggal, sri baginda raja Brawijaya juga mengangkat Wirun menjadi pepatih dengan nama julukan Adipati Wirun, Nambi menjadi Tumenggung, sedang Reksapura menjadi Wedana jero. Raja Brawijaya mengambil isterinya yang masih tertinggal di Galuh dan membantu saudaranya, Arya Bangah, dalam peperangannya melawan Ciyung Wanara. Namun dalam peperangan itu Arya Bangah terkalahkan, hinga melarikan diri ke Lebaksiu. Negeri Galuh terbakar, Arya Bangah diusir sampai Tugu, dimana pasukan-pasukan Majapahit telah datang untuk memberikan bantuan kepadanya. Arya Bangah mengirimkan orang-orang Timur mengeluarkan sepenuh keberanian mereka.
Selanjutnya mereka bergerak (baca: terdesak) kembali dari sebelah barat menuju arah lebih ke timur. Didekat sungai yang oleh karena peristiwa itu diserbu Pemali, mereka berperang lagi. Tempat medan peperangan itu mendapat nama Brebes. Ciyung Wanara mengundurkan diri ke negerinya. Arya Bangah pergi ke Majapahit, meninggalkan pasukan-pasukan yang berada dibawah pimpinan Reksapura. Raja Brawijaya mengangkatnya menjadi wedana (bupati) dengan tempat kedudukan di Tuban. Kumara kawin dengan anak perempuan Arya Bangah Citrawati. Atas nasihat Arya Bangah sendiri, Dandang Wiring dan anak Wirun, Wahas Atas nasihat anjuran Dandang Wiring, Kumara merebut tiga buah negeri jajahan Pajajaran. Setelah itu bergabung Reksapura, pergi sampai Sumedang. Dari tempat itu mereka pergi ke Galuh, Dandang Wiring menundukkan Dermayu (Indramayu). Wahas menundukkan Banyumas, Magelang, Prabalingga (Purbalingga) dan Caracap (Cilacap). Negeri Sokapura berhasil pula dikalahkan. Kumara berhasil merebut Bandung dan Sumedang. Ciyung Wanara menyerah. Ia memerdekakan Dipati Jayasudarga, mertua raja Brawijaya, dan mengirimkan utusan kepada Kumara. Sesuai dengan permintaannya, Ciyung Wanara diantarkan ke Majapahit. Demikian kerajaan Pajajaran akhirnya telah jatuh pada tahun 1223 Saka (1301 Masehi) dengan candra sengkala Guna-Kalih-Tinggal-Kaji,
Ciyung Wanara selanjutnya diangkat menjadi Bupati Agung diseluruh kawasan Jawa Barat sampai ke sungai Pemali. Dalam karya keagungannya The History of Jawa jilid II Rafles juga menyajikan sebuah kisah dengan inti pokok yang sama namun dengan sejumlah perbedaan. Kisah tersebut tidak menyinggung ikhwal lahirnya daerah Brebes. Dari segi telaah sejarah, inti pokok kisah itu sendiri memang tidak benar. Seperti telah dikemukakan Prof. Hosein Djajadiningrat dalam Sastrakantanya, kerajaan Majapahit berdiri mulai dari kwartal ketiga abad ke XIII sampai lebih kurang tahun 1518 sedang kerajaan Pajajaran mulai dari tahun 1433/1434 sampai ada kemungkinan tahun 1579. Dengan demikian, sungguh tidak mungkin jika dikatakan bahwa kerajaan Majapahit merupakan hasil pemisahan kerajaan Pajajaran. Sekalipun demikian, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan, bahwa Brebes telah lahir pada jaman Hindu. Dugaan ini bisa kita kemukakan berdasarkan kenyataan, bahwa didaerah Kabupaten Brebes banyak terjumpai barang-barang peninggalan dari jaman HIndu. Barang-barang tersebut ditemukan diberbagai kawasan diantaranya dikawasan Kawedanan Brebes. Dari kawasan ini pernah dijumpai sejumlah barang kuna yakni empat buah genta dari desa Slarang dan sebuah cincin emas dari desa Karangmangu. Cincin emas ini mempunyai pelat (permukaan rata) materai berbentuk bundar dihiasi dengan garis-garis lengkung yang nampaknya merupakan dua ekor ular dengan dua buah kepala. Cincin ini, yang ditemukan didalam tanah, sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar